082328315140
Jumlah = pcs
Keranjang

Khutbah Jum’at – Di Mana Posisi Kita dalam Perjuangan ? Oleh : Ustadz Amru Khalish

Selasa, Februari 14th 2017.

Jama’ah shalat jum’at yang dimuliakan Allah ta’ala

Pertama, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah ta’ala. Dzat yang telah memberikan berbagai kenikmatan kepada kita. Me\ulai dari nikmat sehat, sempat dan nikmat paling besar berupa iman dan islam.

Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada nabi junjungan Muhammad SAW. Juga kepada keluarga, para sahabatnya, para tabi’in, tabi’ut tabi’in dan para pengikutnya hingga akhir zaman nanti. Amma ba’du :

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Diriwayatkan di dalam syu’abul iman Al-Imam Baihaqi, juga di dalam Tafsir al-Qurthubi. Yaitu ketika seekor katak tidak tahan melihat Nabi Ibrahim hendak dibakar oleh Raja Namrud, padalah tidak mampu berbuat apa-apa, ia hanya menaruh air di mulutnya. Berapa besar mulut katak untuk memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim?

Api menyala lebih besar dari bukit. Katak mengambil air dari sungai dan melompat-lompat lalu menyemburkan air itu kea pi. Upaya katak itu tidak akan dapat memadamkan api. Tapi yang Maha Melihat, (teta) melihat!

Allah ta’ala melihat jiwa seekor katak kecil yang tidak dilihat oleh makhluk lainnya. Allah ta’ala tahu niat dari hambaNya yang kecil tersebut. Cintanya kepada Nabi Allah Ibrahim dan niatnya menyelamatkan Nabi Ibrahim (padahal Nabi Ibrahim sudah dilindungi oleh Allah). Karena itu Allah mengharamkan katak untuk dibunuh sampai akhir zaman. Semua kata, padahal ini perbuatan satu saja. Yang berbuat satu, semua katak sampai akhir zaman haram dibunuh.

Sampai diriwayatkan lebih dari 20 hadits, larangan Nabi SAW untuk membunuh katak. Dalam sebuah hadits dijelaskan ;

 

 

“Ada seorang tabib menanyakan kepada Nabi SAW mengenai anak katak, apakah boleh dijadikan obat. Kemudian Nabi SAW melarang untuk membunuh kata.” (HR. Abu Daud no. 5269 dan Ahmad 3/453. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Kenapa katak dilindungi sampai akhir zaman? Karena satu diantaranya pernah ingin menyelamatkan Nabi Ibrahim. Dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda:

 

 

‘’Jangan kalian membunuh katak. Karena sesungguhnya ia melintasi api yang membakar nabi Ibrahim, membawa air dengan mulutnya dan memercikannya ke arah api’’.

Lihatlah berapa Allah menghargai keinginan mulia, walaupun tidak mampu berbuat apa-apa, walaupun tidak mampu merubah keadaan, tetapi hal itu besar di hadapan Allah ta’ala.

Di sisi lain, makhluk yang namanya cicak iktu meniup api yang dibuat oleh Namrud agar semakin membesar. Memang tiupan cicak tidak seberapa dan tidak akan membesarkan kobaran api, tapi dengan apa yang dilakukannya semua tahu bahwa cicak ada di pihak raja Namrud.

Akibat keberphakannya inilah cicak dianjurkan untuk dibunuh.

 

 

Telah menceritakan kepadaku Saibah, pembantunya Fakih bin Al-Mughirah, dia berkata; “Saya menemui Aisyah dan saya melihat ada tombak yang tergeletak, saya berkata, ‘Wahai Ummul Mukminin! Apa yang kamu perbuat dengan tombak ini?” Aisyah berkata: “Tombak ini adalah untuk membunuh tokek (cecak) karena sesungguhnya Rasulullah SAW pernah bercerita kepada kami bahwa Ibrahim AS ketika dilempar ke dalam kobaran api tidak ada binatang di bumi melainkan mereka berusaha memadamkan api tersebut, kecuali tokek (cecak). Dia meniup kobaran api untuk mencelakai Ibrahim AS. Oleh karena itu, Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk membunuhnya.” (Musnad Ahmad, hadits ke 23393)

 

 

Dari ‘Amir bin Sa’d dari bapaknya bahwa Nabi SAW memerintahkan agar membunuh Al Wazagh (cecak) dan beliau memberi nama Fuwaisiq (si fasik kecil).” (HR. Muslim).

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Ummat terpecah menjadi tiga

Pada tahun 699 H tentara Tartar yang beragama Islam namun berhukum dengan Ilyasiq, bergerak menyerang kota Aleppo, Suriah. Pasukan Islam dari Mesir mundur sehingga hanya tersisa pasukan Islam Syam yang akan berjihad melawan Tartar. Saat itu beliau menulis surat kepada kaum muslimin dan menyatakan bahwa umat Islam terpecah menjadi tiga kelompok :

  1. Thoifah manshurah, yaitu kaum muslimin yang berjihad melawan kaum yang merusak (Tartar).
  2. Thaifah Mukhalifah (kelompok musuh), yaitu kaum perusak (Tatar) dan kaum muslimin yang bergabung (memihak) kepada mereka.
  3. Thaifah Mukhadzilah, yaitu umat Islam yang tidak berjihad melawan mereka sekalipun ke Islaman mereka benar. Maka hendaklah setiap orang melihat, termasuk kelompok manakah dirinya. Thoifah Manshurah, Thaifah Mukhadzilah ataukah Thifah Mukhalifah, karena tidak ada kelompok keempat. (Majmu’ Fatawa 26/416-417)

Jama’ah Shalat Jum’at yang berbahagia

 

Shalat Solusi Hidupku – Abu Muhammad Al-Isfari – Shahih

9%

Rp 32.000 35.000
Iman Kepada Malaikat Muhammad Ash Shalabi

10%

Rp 63.000 70.000
AL-HABIB Muhammad Rasulullah – Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi – Pustaka Ibnu Katsir

10%

Rp 126.000 140.000
Kesalahan-Kesalahan Pengantin – Nabil Mahmud – Aqwam

8%

Rp 34.000 37.000
Terjemahan Sharimul Maslul Hukuman Mati Bagi Penghina Nabi

10%

Rp 144.000 160.000
Cerdas Mencari Istri Shalihah – Ahmad Ath-Thahthawi – Aqwam

8%

Rp 34.000 37.000